Cerpen Terbaru Apa itu cinta dan apa yang salah darinya?
APA ITU CINTA, DAN APA YANG SALAH DARINYA?
Pagi ini
adalah pagi yang cerah, mentari bersinar riang menyambut semua mahluk ciptaan
Tuhan. Burung-burung pun berkicau riang menyambut kehadirannya bersama tetesan
embun nan sejuk. Mentari terus bersinar seakan tak pernah lelah, hingga kita
tak pernah menyadari apa yang telah kita dapat darinya. Oh ya namaku Revan,
lebih tepatnya Muhammad Revan Permana. Aku seorng siswa kelas XI IPA II di SMA
N 1 Surabaya, umurku adalah 17 tahun, aku lahir pada tanggal 1 April 1999, aku
adalah seorang putra tunggal dari bapak Pandu Wijaya dan ibu Yani Sulistia
Wahyu. Aku lebih suka menghabiskan waktu luangku untuk bermain dengan
teman-temanku. Walau terkadang aku harus bolos sekolah hanya untuk bermain
bersama mereka. Kehidupanku lebih dari kata cukup. Setiap apa yang ku mau pasti akan
kudapatkaan. Aku tinggal berdua dengan Ibuku, karena Ayahku tengah bekerja di
luar negeri, ia bekerja sebagai guru di Harvard University tepatnya di
Cambridge, Massachusetts. Terkadang aku ingin sepertinya namun apa yang bisa ku
lakukan aku tak cukup pandai dan aku pun malas untuk bersekolah. hingga hal
aneh muncul di kehidupanku. Dan inilah ceritaku.
Hari ini,
hari kamis ya seperti biasa para siswa lakukan yaitu pergi kesekolah. Entah apa
yang membuatku enggan untuk pergi atau mungkin karena aku memang malas untuk
pergi kesekolah. Setiap kesekolah, aku selalu naik kereta. Tah hayal memang aku
lebih suka naik angkutan umum dibandingkan dengan kendaraan pribadi. Tak pernah
ku sangka ini adalaah awal dari sebuah kejadian yang cukup menganehkan. Di
gerbong nomor 3 dikursi paling akhir aku melihat seorang wanita. Ya, seorang
wanita yang tengah tersenyum. Aku keheranan terhadapnya akankah ia terenyum
padaku atau orang lain. Semakin lama ia tak melepaskan senyumnya hinga aku
penasaran dan menghampirinya sembari aku berkata.
“Apakah kau sembari tadi tersenyum padaku?” Ucapanku membuat
ia mulai melepas senyumnya.
“Ia.” Jawabnya
Jawaban
singkatnya semakin membuat ku makin terheran hingga aku mulai bertanya namanya
dan berbincang- bincang dengannya.
“Namaku Revan, boleh ku tau namamu?” Tanyaku dengan penuh
keragua akankah ia akan menjawab ku atau tidak.
“Namaku Aelina.” Jawabnya singkat.
“Apa kamu masih bersekolah?” Tanyaku kembali.
“Tentu, aku sedang liburan saat ini.” Jawabnya.
“..”
Saat aku akan
menanyakan pertanyaanku lagi padanya ternyata waktu berlalu begitu cepat hingga
tanpa ku sadari aku tengah sampai disekolah. Aku pun beranjak dari tempat
dudukku dan berjalan menuju ke sekolah. Kebetulan sekolahku tidak cukup jauh
dari setasiun pemberentian yang aku ambil, tinggal jalan sebentar aku pasti
langsung sampai. Ku tinggalkan ia sendiri namun, ia tetap tersenyum
memandangku. Hingga aku tak nampak lagi olehnya. Sempai di sekolah aku
mengikuti pelajaran yang sangat tidak aku sukai yaitu matematika. Entah mengapa
serasa otakku mau pecah saat pelajaran itu. Ya, tak ada jalan lain sehingga aku
terkadang harus melakukan kegiatan yang biasa aku lakukan yaitu tidur di dalam
kelas, bolos, ataupun terkadang aku harus pura-pura sakit. Tapi, entah mengapa
hari ini aku mengikuti pelajaran dengan baik, bahkan teman-temanku pun heran
dengan itu. Tapi, belum selesai jam pelajaran disekolah aku memilih untuk
pulang bukan karena aku bolos tapi karena siang ini disekolahku diadakan rapat
guru. Sesampainya dirumah seperti biasa aku disambut oleh Ibuku.
“Rev, apa yang kamu lakukan? Apa kamu bolos sekolah?” Ibu
mulai mengintrogasiku.
“Tidak Bu, revan pulang cepat karena sedang ada rapat
disekolah.” Jawabku tenang.
“Kamu tidak berbohongkan kepada Ibu?” Ibu mengajukan kembali
pertanyaannya padaku.
“Tidak Bu akukan anak baik.” Jawabku singkat
“Lagipula biasanya kamu kan selalu pulang terlambat.” Tanya
Ibuku lagi.
“Sudahlah Bu, Revan capek.” Jawabku menghindari pertanyaan Ibu.
“Ya sudah, istirahat lah.” Ibu kali ini membiarkanku.
Dikamar aku
masih merenung tentang kejadian tadi, tentang seorang wanita yang sebelumnya
tak pernah ku kenal. Ada begitu banyak pertanyaan muncul saat itu juga, seperti
“Kenapa ia bisa mengenalku? Kenapa ia tersenyum saat melihatku sampai seperti
itu? Dan apakah sebenarnya dia mengenalku? Atau sebaliknya.” Saat itu juga aku
dibuat pusing oleh pertanyaanku sendiri. Hingga tak sadar aku mulai lelap dalam
banyaknya pikiranku ini....
Disaat aku
terbangun, Ibu tengah duduk disampingku dengan air mata menetes di pipinya,
kulihat sekelilingku. Oh Tuhan, apa yang terjadi denganku? Kenapa dengan semua
ini? Dan alat apa semua ini? Banyak pertanyaan kembali muncul dipikiranku.
Hingga ku bertanya pada Ibu yang tengah berlinang air mata.
“Ibu, apa yang terjadi padaku? Revan dimana Bu? Dan kenapa
Ibu menangis?” Begitu banyak pertanyaan kulontarkan pada Ibuku.
“Kamu tidak apa-apa sayang, sekarang kamu dirumah sakit, Ibu
menangis karena ibu sangat kawatir padamu Nak,” Ibuku menjawab dengan suara
isak.
“Apa yang sebenarnya membuat Ibu khawatir? Revan baik-baik
sajakan Bu?” Kulontarkan kembali pertanyaan kepada Ibuku.
“Ibu hanya kawatir, saat Ibu bangunkanmu, kamu bahkan tidak
menjawab Ibu. Sehingga Ibu takut dan Ibu membawamu kerumah sakit.” Jawaban Ibu
membuatku binggung.
“Tidak apa-apa Bu, lihatlah Revan baik-baik saja kan Bu?”
Jawabku meyakinkan Ibuku.
Setelah
dokter mengijinkanku pulang, aku pun segera pulang dan beristirahat saat tiba
dirumah. Meski banyak pertanyaan yang sangat aku tidak mengerti.
Malam yang
sepi hanya ditemani dengan hembusan angin yang dingin, tanpa ditemani oleh
bintang dan bulan. Aku mulai merenungi kembali apa yang sebenarnya terjadi
padaku. Kenapa hal seperti ini bisa terjadi padaku. Hingga anganku pun membawa
diriku dalam kelelapan.
Mentari pun
mulai bersinar kembali, namun pagi ini ada yang berbeda dengan pagi kemarin.
Yaitu karena pagi ini tengah gerimis. Pagi yang sama seperti yang selalu aku
lakukan, seperti sudah diatur oleh jadwal. Aku pun berangkat ke setasiun dengan
butiran air mulai membasahi seragamku. Saat kehadiranku di kereta yang sama
seperti kemarin dan untuk tujuan yang sama yaitu berangkat kesekolah aku
kembali dikejutkan oleh wanita itu, ya wanita yang bernama “Aelina” itu kembali
tersenyum kepadaku namun kali ini aku menghiraukannya. Sesampainya disekolah aku langsung pergi
kekelasku, mengikuti pelajaran dan setelah itu pulang. Aku mulai berfikir
dikamarku apakah dia “ si wanita itu” akan marah atau tidak karena aku
menghiraukannya tadi, hingga ponselku mengejutkan lamunanku. Sebuah pesan dari
Andi teman kelasku, ia ingin mengajakku untuk bermain sepak bola. Dan aku pun
langsung menyetujuinya. Kami pun berjumpa di lapangan sepak bola yang tidak
jauh dari rumahku. disana kami bermain bersama hingga kami tak menyadari bahwa
sang surya tengah menuju ke persembunyiannya, Kami pun pulang kerumah
masing-masing.
Sesampainya
dirumah, aku pun segera mandi karena Ibu telah menyuruhku untuk segera makan
malam. Selepas makan malam aku pun menghampiri kembali kamar tidurku untuk
beristirahat, melepas semua kelelahan yang telah aku rasakan hari ini.
**
Sang surya
mulai menampakkan kembali senyumnya, yang telah hilang dan digantikan oleh
indahnya taburan bintang. Kicauan burung pun menambah indahnya pagi ini, bagai
melodi indah dari syurga yang jarang ditemui dikota-kota seperti di tempat
tinggalku ini. Pagi ini aku berangkat dengan semangat ke sekolah, diiringi
cercaan sinar mentari yang mengikutiku.
Pagi yang cukup indah untuk berangkat kesekolah. “Yah rasa malas itu
mulai timbul lagi?” Sesampainya di setasiun segera aku naik kekereta yang akan
menuju keterminal dekat sekolahku. Ya didalam kereta aku mulai mencari tempat
duduk yang biasa aku duduki dan tanpa ku duga saat aku melihat kekursi paling
ujung, aku melihat wanita itu kembali. Namun, ada yang berbeda dengannya. Ia
tak lagi menunjukkan senyumnya hanya ada tangis disana, hingga aku mulai merasa
bersalah dan banyak pertanyaan yang muncul dari benakku. “kenapa ia menangis?
Apa karena kemarin aku menghiraukannya? Haruskah kali ini aku menemuinya dan
bertanya padanya? Atau apa yang harus aku lakukan?”
Hingga aku
memutuskan untuk tidak menanyainya. Ia tetap dalam pandanganku, hingga aku pun
mulai merasa sangat bersalah. Tanpa ku sadari kereta telah berhenti dan aku pun
segera turun, tak pernah ku sadari ia masih menangis. Kejadian itu masih
terbayang, hingga aku memutuskan untuk tidak mengikuti pelajaran dan
menenangkan diri di sebuah taman yang tak jauh dari sekolah. Langit yang
tadinya cerah tiba-tiba menjadi mendung yang sangat gelap, bagaikan langit
tengah marah. Tidak lama hujan pun turun dan membasahi tubuhku, aku tak
beranjak dari tempat dudukku. Hingga suara kilat yang cukup keras
mengagetkanku. Aku mulai berjalan, mencari tempat yang cukup teduh. Belum
sampai langkahku sampai, aku dikagetkan lagi dengan wanita itu. Ya, ia adalah
Aelina.
“Apa yang kamu lakukn disini? Kenapa kamu tidak mengikuti
pelajaran disekolahmu?” Tanyanya seperti Ibuku saja.
“Aku tidak menyukai mata pelajarannya!” Jawabku singkat.
“Apa yang membutmu begini? Apakah kau tak pernah
membayangkan apa yang telah dilakukan kedua orang tuamu untuk menyekolahkanmu?”
Jawabnya seolah-olah ia tengah menasehatiku.
“Kau siapa! Apa urusanmu dengan diriku, kenapa kau selalu
muncul dengan kebahagiaan dan kepedihan. Dan saat ini kau mulai menasehatiku
seperti Ibuku.” Jawabku marah padannya.
“Maaf aku hanya....” Belum selesai pernyataanya aku telah
memotong perkataannya.
“Sudahlah jangan lagi kau ikut campur urusanku, selesaikan
saja urusanmu sendiri. Aku tak butuh siapa-siapa dalam urusanku!” Jawabku
dengan nada marah sembari aku meninggalkannya.
Aku pun
segera pulang kerumah, sesampainya dirumah. Ibu tak lagi seperti biasanya, Ibu
terlihat sangat marah, dan entah apa yang membuat Ibu marah hingga Ibu akan
mengirimku kepada ayah. Ya Ibu telah tau kalau aku bolos sekolah hari ini
karena kepala sekolah telah menelephon tadi. Ya tuhan, hari ini Ibu benar-benar
marah padaku. Beliau tak mau mengucapkan sepatah katapun pada hamba mu ini ya
Tuhan, akankah semua ini bertahan lama? Bagaimana aku dapat melalui hidup jika
begini? Otakku mulai berfikir kembali hingga aku terjaga dalam malam.
Mentari
bersinar riang pagi ini, tapi aku harus segera bersiap-siap untuk pergi ke
Amerika, aku akan pergi ketempat ayah. Seorang supir taksi telah menunggu
dibawah dengan mobilnya. Aku segera turun dan menemui Ibu.
“Aku tahu kesalahanku Ibu? Aku tau semua kesalahanku Ibu?
Hingga kau mengirimku kepada Ayah. Aku tau kau pasti sangat marah. Dan mungkin
tidak akan memaaf kan ku. Tapi akankah aku pergi sendiri? Ya, pasti aku akan
sendirian. Ibu, kali ini biarkan aku meminta maaf padamu Ibu? Meski aku tau
dibalik diamnya dirimu pasti ada rasa tak ingin untuk kepergianku? Ibu, jaga
diri Ibu baik-baik ya? Jangan buat Revan pergi dengan menangis Bu? Tersenyumlah
Ibu? Aku pergi?” Tak ada satu jawaban terucap dari Ibuku dan aku segera naik
kemobil dengan pandangan masih menuju pada Ibuku sampai mataku tak dapat lagi
menjangkau dirinya.
Di setiap
perjalanan aku selalu berpikir akankah Ayah akan menerimaku disana? Saat ia
tahu bahwa aku bukanlah anak yang ia inginkan? Oh tuhan kenapa aku baru
merasakan perpisahan ini begitu pedih. Kenapa tak pernah kupikirkan semua ini
sebelumnya? Aku benar-benar takut. Apa yang akan aku katakan pada Ayahku disana
Tuhan? Ayah pasti akan marah besar, dan mungkin akan menghukumku.
Sepanjang
perjalanan dengan mobil tak henti aku berpikir tentang kesalahan yang telah ku
perbuat. Hingga tak ku sangka aku tengah tiba di bandara dan segera aku masuk
kedalam pesawat penerbangan ke Amerika.
Sampailah aku
disana, aku bahkan tidak tau harus kemana. Hingga aku melihat Ayahku tengah menungguku,
ia berdiri sembari mengulurkan tangannya dan berkata:
“Apa liburanmu disini akan lama? Ibu bilang kamu sanggat
ingin bertemu Ayah hingga kamu harus liburan disini?” Tanyanya mengagetkanku.
“Apa ibu bilang begitu?” Tanyaku ragu.
“Ya. Ibumu mengatakan bahwa anak Ayah ini sangat ingin
bertemu Ayah.” Jawabannya membuat aku menangis disana juga.
“Ayah kapan pulang ke Indonesia?” Tanyaku dengan linangan
air mata.
“Kenapa kamu menangis? Ayah tidak tau kapan Ayah akan
pulang, apakah kamu sebegitu kangennya dengan Ayah sampai kamu menangis?”
Tanyanya kembali.
“Te, tentu Ayah.” Jawabku singkat
“Sudah jangan menangis, kau inikan sudah dewasa kenapa mesti
menangis? Ayo kita kerumah Ayah.” Ayah pun menyeka air mataku dan menggandeng
tanganku untuk kerumahnya.
Tak terasa
aku telah sampai dirumah ayahku, dan inilah malam pertama aku tinggal bersama
ayah di Amerika. Aku selalu membayangkan apa yang sedang ibuku lakukan disana
saat ini? Apakah ia sudah makan? Ataukah belum? Apakah ia memikirkanku saat
ini? Lamunanku mulai terpecahkan oleh perkataan Ayah.
“Revan, ayo tidur sudah malam. Ayah sudah menghubungi Ibumu
kalau kamu sudah sampai dan kamu juga baik-baik saja?” Perkataannyah memudarkan
heningnya malam ini.
“Baik Ayah.” Jawabku singkat.
Mentari bersinar
riang di negri Holliwod ini, dan ini adalah pagi pertamaku di sini. Aku mulai
mandi dan berjalan-jalan disekeliling sana. Hingga aku melihat kursi di sebuah
taman yang cukup besar dan ya aku duduk disana dan aku pun bertemu Aelina. Aku
sunguh sangat heran kenapa selalu ada dia dimana saja, bahkan sangat jauh aku
pergi ia masih ada. Apa ini sebuah bayang-bayang atau apa?
“Revan, lihatlah indah bukan?” Tanyanya mumbuat aku yakin
bahwa dia bukanlah bayang- bayang dari pikiranku.
“Tidak juga.’ Jawabku singkat.
Hingga tak
pernah kusadar pandanganku mulai samar dan mulai mengelap. Aku pun mengusap
mataku hingga pandanganku mulai pulih kembali, tapi apa yang kulihat? Oh tuhan
tempat yang sangat berbeda dari apa saat aku berada. Tempat itu penuh dengan
cahaya lentera dan suasanya yang sunyi.
“Dimana aku? Tempat apa ini?” Tanyaku pada Aelina.
“Revan, jangan takut. Tetaplah tersenyum apapun yang terjadi
setelah ini, berjanjilah padaku?” Perkataannya membuat diriku semakin bingung.
“Apa yang kamu maksud? Kenapa kau membawaku ketempat ini?
Dan tempat apa ini?” Tanyaku dengan gemas.
“Revan, aku akan jawab semua pertanyaanmu dari siapakah
diriku? Apa yang ku mau? Dan apa tujuanku mengajakmu disini.” Perkataannya
benar-benar tak dapatku mengerti.
“Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu?” Jawabku
“Revan, namaku adalan Aelina Putri, aku bersekolah di SMA II
Yogyakarta, aku seorang putri tunggal. Aku selalu tersenyum padamu karena aku
menyukaimu. Entah kenapa aku dapat menyukaimu? Mungkin karena saat pertemuan
pertama kita dan mungkin kau tak menyadarinya?” Jawabnya.
“lalu apa yang membuat dirimu mengikutiku dan kenapa kau
menangis saat terakhir aku melihat mu dikereta?” tayaku.
“aku tak pernah bermaksud untuk membuat mu bersalah, tapi
karena aku suka, aku mengikutimu. Dan saat aku menangis karena sebentar lagi
aku benar-benar akan kehilangan orang-orang yang sangat aku cintai. Aku akan
kehilangan Ayahku, Ibuku, dan juga dirimu?” pernyataanya membuat aku bingung.
“Apa itu yang kamu maksud cinta? Aku bahkan tidak pernah
mengetahuinya? Bagiku cinta hanya membuat luka yang teramat parah.” Jawabku
kesal.
“Suatu saat nanti kamu pasti akan tau tentang cinta yang
sesungguhnya. Revan, saat kau bangun nanti. Akankah kau mau berjanji padaku
untuk tidak menyalahkan takdir dan janganlah menangis, teruslah tersenyum dan
jangan pernah sesali pertemuan singkat kita ini? Biarkan semua ini menjadi
kenangan yang cukup indah bagi kita berdua.” Setelah ia mengucapkan kalimat itu
tiba-tiba mataku mulai samar dan mulailah terlihat cahaya. Ya aku melihat
banyak sekali alat kedokteran yang tertancap ditubuhku dan aku melihat ayah dan
ibuku menangis.
Saat itu juga
aku melihat dua orang yang tak kukenali sama sekali berada diruangan itu juga.
Dan tak lama kemudian dokter datang dan untuk memeriksaku.
“Ayah, Ibu apa yang sebenarnya terjadi pada Revan?” tanyaku
pada kedua orang tuaku.
“Revan, jangan menangis sayang, inilah yang sebenarnya
terjadi. Tuhan telah menciptakan pri cantik yang sangat ingikan dirimu tetap
tersenyum. Ia telah mempertemukan Ayah dan Ibu keluarga baru. Dan hal yang
paling indah ada pada dirimu sayang.” Jawab Ayahku dengan sendu.
“Revan, didalam hati setiap manusia ada banyak hal yang
berbeda. Aku benar-benar terpukul saat aku harus kehilangan malaikat kecilku.
Aku sangat bahagai saat melihatnya sadar dari koma, tapi permintaan terakhirnya
membuat aku tak dapat membendung apa yang terjadi. Nak Revan dengarkan aku.”
Sembari memegan dadaku. “Disinilah ada detak jantung putriku.” Kata seorang
pria yang masih asing bagiku dan takhayal ia adalah Ayah dan Ibu Aelina.
“Revan ini adalah sebuah surat terakhir yang dapat ditulis
oleh putriku. Surat yang tak pernah ingin aku berikan, tapi apa putriku tak
dapat mengatakannya lagi, sebab itu ini ku berikan untukmu sebagai pesan
terakhirdarinya.” Kata Ibu Aelina dengan tangis yang tak dapat dibendung lagi.
Dengan
airmata berlinang aku paksakan tanganku untuk menerima pesan terakhir dari
Aelina lewat sebuah surat yangg ia tulis. Ku coba buka perlahan. Namun, air
mata tak dapat lagi tertahan dan perlahan kubaca.
Dear Revan,
Jalan masih pajang untuk kau tempuh,
masih banyak waktu untuk mengukir prestasi, masih ada kesempatan untuk kembali kejalan
yang benar. Dan terus berusaha untuk memenuhi keinginan orang-orang yang sangat
kita cintai. Namun, apa yang kulihat saat ini? Hanya ada air mata dipipimu.
Tanpa sebuah senyum yang mengembang dibibirmu. Penderitaan telah menghentikan
langkahku, rasa sakit telah menjadi teman disetiap hariku, air mata tak henti
mengalir dipipiku, dan sebuah senyum termanis masih bias kupersembahkan untuk
mereka yang sangat menyayangiku, meski rasa sakit tak henti menyiksaku. Dan apa
yang dapat kau berikan pada mereka yang menyayangimu dengan kesempurnaan fisik
dan materimu? Apa hanya air mata yang mungkin tak pernah berharga? Tolong,
jangan lakukan itu. Messki sakit teruslah untuk mencoba tersenyum dan jangn
biarkan mereka terlibat dalamm luka yang kita rasakan! “hanya sekedar tersenyum
pun sulit bagaimana dengan yang lainnya?” jika kau bertanya seperti itu maka
biarkan aku menjawab, “bukan senyum yang membuat kita sulit mengutarakannya,
kita hanya lemah. Kita tak mampu untuk melawan rasa sakit itu hingga kita
terjerumus di luka yang telah kita buat dan disanalah senyum itu akan suit
untuk terlepas.” Cobalah untuk hidup seperti bagaimana mentari yang selalu
tegar disetiap harinya. Tanpa mengenal lelah, ia tetap bersinar. Mencobalah dan
jangan putus asa. Biarkan semuanya hilang, namun jangan lukai orang-orang yang
amat kita cintai. Bukan hanya aku, tapi mereka yang harus kau jaga. Bukan hanya
cinta yang harus dikenang. Tapi, rasa sakit juga pantas mendapatkannya. Hinga
kita baru dapat mengerti hidup ini.
“Cinta” ya. Hanya sebuah kata yang
melambangkan perasaan namun bermakna luas. Meski kita tak berjumpa lagi dimasa
depan, mungkinkah Tuhan dapat mempertemukan kita kembali nanti disebuah tempat
keabadian? Dan biarkan kutitipkan perasaan ini sampai kau mampu melupakanku.
Dan akan ku biarkan wanita lain mengisi ruang hatimu yang dulu pernah kau
berikan untukku. Dan akan kubiarkan cinta ini terpendam bersama diriku. Aku
akan selalu mendoakanmu. “Tuhan, biarkan dia yang pernah mengisi hari hampaku
yang pilu tetap tegar dan terus bangkit dengan senyuman. Aku tak pernah mampu
jika melihatnya menangis. Tuhan, biarkan aku terlupa dari hidupnya, daripada
aku menjadi beban dalam pikirannya. Aku sangat tak sangup untuk melihatnya bersedih
karena mengingatku. Tuhan, bukakanlah hatinya untuk orang lain, aku benar-benar
tak mampu jika melihatnya terus terjerumus dalam masa lalu. Tuhan, buatlah dia
selalu bahagia, sebab aku tak mampu melihatnya pilu karenaku. Tuhan, jagalah
dia, sebab aku tak mampu lagi menjaganya. Tuhan, cintai dia. Sebab aku tak
mampu mencintainya. Tuhan, sayangi dia. Sebab aku tak mampu lagi menyayanginya.
Tuhan, biarkan ia mendapat apa yang ia inginkan. Sebab aku tak bias
memenuhinya, karena aku telah gagal. Tuhan, aku sangat mencintainya.” Dan
Revan, terima kasih engkau telah mengukir warna disela kehidupanku yang
menyedihkan, menjalani hari tanpa warna denganku, dan membagi rasa bersamaku…
Aku yakin Tuhan pasti menyayangi kita. Dan dapat menjadikan kita sahabat sejati
selamanya. Sampai waktu membuat semuanya kembali lagi seperti saat sebelum
engkau mengenalku. Dan menjadikan semua ini cerita indah disetiap sela
kehidupan.
Tersayang
Aelina Putri
“Kenapa? Kenapa
harus seperti ini? Apakah engkau hadir dalam bayang tanpa raga? Yang selalu
memberiku motivasi dan harapan? Atau egkaukah yang membiarkan aku jatuh dan
bangkit kembali dari keterpurukan? Jika memang begitu. Salahkah aku
mengenangmu? Atau burukkah aku mencintaimu? Kita memang berjumpa bagaikan
kilat. Yang tak pernah tau kapan datang dan pergi. Serasa kemarin aku baru
melihatmu, kini engkau telah jauh dari jangkauanku atau bahkan takkan pernah aku
dapat menjangkau jiwamu apalagi menatapmu. Sebuah pertemuan denganmu membuat
aku sadar. Betapa banyak insan yang menyayangiku, dan mencintaiku. Engkau telah
menyadarkanku jauh sebelum aku mengenalmu. Hingga aku sadari aku telah
melupakan orang yang pernah berarti bagiku. Yaitu dirimu. Bukan hanya sekarang
tetapi, juga dimasa laluku. Engkau bagaikan malaikat yang tak pernah lelah
mengingatkanku pada kenyataan hidup. Aku sadar bahwa pertemuan yang singkat ini
dapat membuat aku kembali teringat dengan sahabat terbaikku serta kekasihku.
Engkau mungkin ingin aku melupkan semua tentang kita. Tapi, disini disetiap
detak jantungku ada sebuah kisah sendu antara engkau dan aku. Dan akan aku
berikan sama seperti yang kau lakukan.” Kata Revan setelah membaca surat yang
tertuju untuknya.
“Sudahlah nak Revan, ikhlaskan
kepergiannya. Sebagai mana kami lakukan. Meski duka meliputi namun berusahalah
untuk tetap tegar. Seperti yang dilakuka putriku tercinta yang selalu sabar dan
tak pernah goyah akan apa yang ia inginkan. Aku sadar bukan hanya kami yang
teramat menyayanginya tetapi juga dirimu. Dan kami tau ia tidak akan membiarkan
orang-orang yang sangat ia cintai menanis karenanya.” Balas Ayah Aelina..
“Kalau begitu mari nak kita
kepemakaman untuk menemui ananda Aelina diperistirahatan terakhirnya.” Kata
Ibuku dengan suara lirih dan tersedu.
Air mata masiih saja menemani
perjalananku menuju pemakaman. Disana aku tak dapat lagi membendung tangisanku.
Aku sungguh tak sanggup melihat segunduk tanah yang penuh dengan taburan bunga
bermacam warna itu. Menambah kesan sendu mengiringiku. Tapi, meski dengan air
mata yang mengalir deras dari pipiku, ku bulatkan niatku untuk menuju ketempat
peristirahatan terakhirnya. Hunjatan Do’a kami hutarakan meski air mata tak
henti mengalir.
Setelah kepergiannya hari-hari kulalui
dengan penuh kepiluan. Aku selalu merasa bersalah, akan semua yang pernah aku
lakukan kepadanya. Namun, setalah kubaca ulang kembali surat yang ia tulis
untukku waktu itu, disaat terakhirnya, membuat diriku menyadari semuanya.
Meskki air mata kembali menetes dipipiku.
Hingga aku selalu mencoba untuk bangkit dan mengejar cita-cita yang
menjadi impianku dan juga impiannya.
“Aku sadar akan apa yang telah terjadi
padaku dan juga padamu. Aku mulai menyadari setiap kata bermakna yang engkau
tuliskan padaku. Aku telah melakukan hal yang tak baik padamu, aku pernah
melukaimu, tapi inikah balasan yang kudaptkan? Engkau telah memberikan aku
sebuah kesempatan kedua untuk merubah kehidupanku menjadi lebih baik. Dan denan
detikan detak yang kau berikan kau telah hidup kembali pada diriku. Dan takkan
ada lagi yang dapat pisahkan kita. Karena disetiap denyut nadiku adalah detaran
jiwamu.” Ucapku pelan setelah kubaca surat itu dengan air mata berlinang aku
tetap akan tegar. Meski orang mengatakan apa yang tak baik untukku aku tidak
akan mendengarkannya aku akan jadikan itu sebuah pelajaran seperti apa yang
telah kau lakukan untukku.
Berangsur waktu.
Aku kini mulai sadar. Bahwa cinta tak harus
memiliki. Tak harus saling bertatap selalu. Cinta hanya butuh tekad dan
kepercayaan serta sebuah kejujuraan. Aku memang mencintai ia yang telah tiada.
Tapi aku akan selalu berusaha untuk dapat mencintai wanita lain yang dapat
mengertiku sepertimu. Dan aku masih sama namun kini aku lebih dewasa dan lebih
mengerti daripada dahulu. Aelina, aku takkan pernah menyalahkan Tuhan tentang
apa yang telah terjadi padamu. Aku yakin, Tuhan lebih menyayangimu daripada
kasih sayangku. Dan aku selalu yakin bahwa Tuhan mempunyai cerita indah untukku
dan juga untukmu. Aku akan selalu berdoa disetisp sujudku. Agar kita dapat
dipertemukan lagi diwaktu yang lebih lama. Agar aku dapat melepas rinduku
padamu. Dan engkau dapat melihat pria ini menjalani hidup dengan senyum yang
engkau ajarkan padaku di Syurga. “Aamiin.” Aku sungguh bahagia Aelina, kini aku
memiliki dua orang Ayah dan dua orang Ibu yang selalu mendukungku kapan pun.
Dan sangat menyayangiku. Serta detak jantung indah ini yang telah kau berikan
untukku. Dan semua itu kudapatkan hanya darimu. Terimakasih Tuhan, Engkau telah
mempertemukan aku dengannya. Seseorang yang dapat merubah segalanya menjadi
lebih baik, wanita yang selalu tegar dengan rasa sakit yang ia rasakan. Wanita
yang selalu tersenyum meski penderitaan menyertainya. Wanita yang tak pernah goyah
meski badai menghadangnya. Wanita yang selalu bangkit meski ia berulang kali
jatuh. Ia adalah wanita yang kuat dan akan selamanya seperti itu. Dan cerita
ini akan aku ceritakan kembali kelak untuk anak cucuku…
Dan Kini Aku Tau Apa
Itu Cinta? Dan
Cinta Tak Penah Salah Dalam Segalanya…
Tamat…
Oleh,
Rumi
Boleh nangis lagi gak baca ke 2 kali?😢
BalasHapusWkwkwk.. gimana ceritanya?
Hapusbagus kak ceritanya. di tunggu buat cerita lainnya kak
BalasHapusTerimakasih
Hapus