Aku Tak Mengerti

TAK MENGERTI

Kemarin, 29 September 2019 mendung benar-benar menutup langit biru itu dengan mendatangkan hujan. Dari kaca jendela aku melihat setiap tetes demi tetes air mulai membasahi bumi. Dan lagi-lagi semua itu membuat aku teringat kepadamu.
Pagi itu, 19 Agustus 2017 langit begitu cerah seakan awan takut menginjakkan dirinya di angkasa sana. Mentari bersinar dengan teriknnya seolah-olah ia bangga, karena tidak ada yang menghalangi sinarnya sampai ke bumi. Terpaan angin waktu itu menerbangkan dedaunan pohon rambutan dan yang tak sengaja aku ada dibawahnya. Aku masih terpaku memandang air di tepi kolam sampai salah satu daun itu mengejutkanku karena jatuh tepat di kepalaku.
Waktu itu pukul 10.45 Wib. Dia datang, mengajak ku latihan katanya. Bahkan aku tidk tau latihan apa, atau mungkin dia memang sedang bercanda. Diam, seketika diam hanya saling pandang hingga akhirnya tawa pecah diantara kami. Bingung, apa yang kami ketawakan sebenarnya tapi itulah kami.
Aku adalah Kirana Ashinta dan dia sahabatku Ardian Ardi Praditya. Kami adalah sahabat yang tak sengaja bertemu di lapangan upacara di sebelah sekolahnya tahun lalu waktu upacara kemerdekaan. Waktu itu, aku menumpahkan es the di seragam sekolahnya dan ku pikir dia akan marah. Tapi ternyata, dia hanya tertawa.
“Maaf” Kataku. Tapi dia malah menarik dan menjabat tanganku seraya memperkenalkan dirinya. Setelah itu, lama kami tidak pernah bertemu dan saat aku mengikuti salah satu kegiatan ekstrakulikuler pramuka gabungan, saat itulah aku bertemu kembali dengannya. Lagi-lagi dia yang menyapaku lebih dulu, dan saat kegiatan itu pula kami mulai berbincang-bincang dan mulai mengenal satu sama lain. Kami juga berbagi nomor telpon. Setelah semua itu, kami jadi sering bermain Bersama. Berteman atau mungkin sahabat.
***
“Ra… Kamu suka langit biru?” Pertanyaannya memudarkan lamunanku. Saat itu kami tengah memandang ke langit dengan tikar terbentang di depan rumahku di bawah bayangan pohon cemara dan kami terbaring disana.
“Hemm. Aku pikir, aku lebih suka mentari.” Jawabku singkat dengan pandangan tetap ke langit.
“Kenapa?” Tanyanya.
“Apa kamu suka langit biru?” balikku bertanya, dan tanpa sadar pertanyaanku itu membuat senyum kecil di bibirnya.
“Aku lebih suka langit malam penuh bintang.” Jawabnya, kemudian dia sejenak dan melanjutkan ucapannya.
“Malam ini mau lihat meteor denganku?” Tambahnya
“Komet Perseid akan melintasi bumi malam ini.” Jelasnya.
Aku masih terdiam sambal berpikir jawaban apa yang akan ku beri. Dan tanpa sengaja aku iseng saja menjawab.
“Boleh, tapi dirumahku lihatnya.” Timpalku. Tapi, tanpa ragu dia malah menjawab “iya” untuk permintaan ku itu.
***
Dari siang itu, dia tidak pulang dan masih menemaniku. Sekarang sudah pukul 20.00 Wib. Karena lagit siang tadi cerah langit malamnya pun cerah penuh bintang. Kami membentangkan tikar di samping rumahnku diatas lapangan takraw dengan ditemani teh hangat dan kue coklat kesukaan ku. Kami berbaring dengan memandang langit yang penuh bintang itu. Dan yang pasti kami di temani suara binatang malam yang bersaut-sautan seakan sedang berbicara satu sama lain.
Pukul 22.05 Wib. 19 Agustus 2017 terasa begitu sepi. Angin malam memberi kisah dingin pada diriku dan dirinya. Lama menanti akhirnya melihatnya, ya melihat apa yang di katakannya siang tadi. Dan itu kisah paling istimewa yang kita lalui Bersama.

Bersambung…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Terbaru Apa itu cinta dan apa yang salah darinya?